Rasa Menang

Seorang kawan menulis tentang perilaku pengendara motor. Ketika membacanya saya mengangguk-angguk. Tanda berhasil menggambarkan apa yang ditulis. Saat, lampu merah seperti kibaran bendera start dalam pacuan. Tak ada lagi kawan seperjalanan yang ada hanyalah saingan sepanjang jalan. Semua pengendara memacu motornya, entah untuk apa? Sesekali ada yang meliuk-liuk, sekadar mencari perhatian.

Aku juga penunggang motor. Untuk seluruh mobilitasku, motor adalah andalan satu-satunya. Setiap hari aku menghabiskan waktu hampir satu jam sekali jalan untuk menuju kantor. Jauh? Entahlah. Aku merasa biasa-biasa . Bukan hal yang berat. setidaknya aku masih bisa menjalaninya dengan tertawa dan senyum.

Sudah dua bulan lebih, aku kembali mengikuti ritme bermotor di jalanan Jakarta. Apa yang paling menonjol dalam perilaku pengendara motor. Perebutan setiap jengkal sela. Yang disebut berebut itu benar-benar tidak mau mengalah demi sejengkal tempat yang lebih dulu, demi merasa menang dari pengendara yang lain, demi sedetik atau sepersekian meter lebih unggul dari yang lain.

Absurd? Bisa jadi kalau kita melihatnya dari kejauhan tinggal geleng-geleng kepala dan tidak paham. Namun bila masuk ke dalamnya rasakan hentakan adrenalin yang setiap kali terus mengalir. Cobalah sebulan menjadi bikers di Jakarta. Meski secuil pasti bisa merasakan denyutan kebanyakan para pengguna jalan.

Para pengguna motor bukanlah mereka dari ekonomi berada. Para pengguna motor mewakili rakyat kebanyakan yang rindu rasa menang. Setiap kali menyaksikan berita korupsi, pembangunan gedung yang bernilai miliaran, atau seliweran mobil-mobil mewah. Semuanya memberitakan tentang ada struktur tidak adil yang sedang dilakoninya.

Pengalaman menjadi pemenang meski itu semu bisa memunculkan harapan untuk terus melakoni hidup. Meski caranya masih belum pas, pengendara motor rindu rasa menang, sebagai bekal untuk melanjutkan hidup esok hari.

Kalau cara pengendara motor sering melukai hati budiman sekalian, saya sebagai salah satu pengendara motor minta maaf.

4 Responses

  1. aku juga seorang penunggang motor. james, nama motorku. aku juga mau minta maaf kalo aku gagal menjadi sahabat dalam perjalanan. jujur, jalanan adalah ruang paling nikmat untuk memuntahkan seluruh kekesalan, kebuntuan, dan ketidakberdayaan….

  2. Salam buat James. Semoga sehat selalu.

  3. kenapa harus minta maaf? Setiap pengguna jalan punya hak atas setiap jengkal jalan-jalan yang panjang itu. Masalahnya adalah rasa empati. mungkin itulah yang kita tidak punya.. :-)

  4. Udah lama juga aku gak naik motor. Kalo di Yogya masih bisa santai lah (kalo ke sana kan untuk liburan…) kalo di jkt lebih gawat mungkin ya?

Leave a Reply