Kalau ada seseorang yang mengaku bahwa dia tahu semuanya tentang sesuatu dapat dipastikan bohong. Ngawur dan menyesatkan.
Hari ini, aku pergi ke kantor dengan menggunakan kendaraan umum. Aku senang bila naik angkot duduk di depan. Di samping supir. Pasalnya bisa memanjakan mata dan tengak-tengok sepanjang jalan tanpa ada yang melarang.
Sepanjang jalan saya sering terbengong karena banyak mendapati hal-hal baru. Misalnya baru aku tahu kalau ada pemakaman di dekat pompa bensin Larangan. Tidak hanya itu, ada juga lahan perumahan yang belum jadi, ada ratusan mulut gang yang ketika aku menengok ke dalamnya banyak sekali rumah-rumah yang tersembunyi.
Aku merasa telah mengenal setiap lekuk jalan yang dua kali sehari aku lewati. setiap lobang dan setiap kelokan aku hapal betul. Bahkan kalau ada tambalan atau lobang baru aku pasti tahu.
Setelah naik angkot banyak hal baru yang aku saksikan. Namun lebih dari itu, klaim bahwa seseorang mengetahui sesuatu sampai seutuhnya barangkali hanyalah klaim omong kosong. Kesadaran bahwa mata yang digeser akan memberi paradigma yang berbeda.
Aku jadi teringat dengan permainan paradigma di dalam bukunya Stephen Covey, “Seven Habits”. Paradigma yang digeser akan memberi input yang berbeda pada seseorang. Padahal biasanya hal yang dilihat adalah sama. Fakta dan data yang dicermati sama tetapi paradigma yang berbeda membuatnya berbeda.
Perjalanan dengan angkot yang biasanya panas dan menyebalkan terasa menyenangkan. Pemandangan baru sepanjang jalan.
Aku juga teringat dengan film “Dead Poet Society” yang dibintangi Robin Williams. Dia manganjurkan anak didiknya untuk naik ke atas meja dan mencoba merasakan pergeseran mata. Melihat dari paradigma yang lain.
Dunia ini terus berubah. Karena hanya perubahan lah yang tetap ada di dunia ini.
Menggeser mata bisa mengintip warna-warni dunia.
Filed under: Uncategorized
bicara soal angkot, jadi teringat waktu jaman sekolah menengah beberapa tahun lampaau. Ceritanya, saat itu, rumah keluarga yang dulunya hanya 5 menit saja berjalan kaki ke sekolah, pindah berkilo-kilo meter dari tempat saya belajar. Bapak saat itu sudah mengatur anak-anaknya pakai jemputan. Tapi dengan ’sombong’nya saya memilih mandiri, pakai angkot. Nah, karena perginya masih bisa nebeng mobil sekalian bapak ke kantor, pulangnya lah saya pake angkot itu. Ketika menghentikan, urusan lancar. Pas di lokasi perumahan tempat saya tinggal, saat itulah saya mulai stres. Kenapa suara gak keluar saat saya mau bilang kiriiii, seperti layaknya penumpang lain yang mau turun. Uhhhh, susah bangett..keringat mulai keluarr, lokasi perumahan pun lewat sudah.. panik sudah, akhirnya saya menepuk kaki ssaya, sambil bilang kiriiiiiii, keras banget.. sampai si supir, berhenti mendadak. Uhh, ternyata di tempat umum seperti itu suaraku gak keluar, alias gagap nya kumat.
Gagap itu juga masih berlaku ketika sudah bekerja. Lucunya, hanya saat mengehntikan kendaraan saat mau turun saja, penyakit itu kumat.. Yahh.. terpaksalah, sejak gagap itu, bapak ibuku, agak memberi perlakuan khusus pada anaknya ini. Saya dengan giat belajar jadi supir, biar gak tergantung pada orang lain. Jadi memang sejak SMP itulah, saya sudah jadi supir untuk diri sendiri, sampai sekarang. Meski, teus terang, naik angkot atao bus untuk saya lebih nyaman, karena gak ada resiko kendaraan ‘tercium’ di tangah jalan, atau harus bayar pajak tahunan, atau kudu bayar polisi kalao ditilang..hehee… semua memang ada keruimitan sendiri ya… (sori nih commentnya kepanjangan)… tabik!
Nar, kalo saya naik angkutan umum karena : lagi cape dan bosan. Memang ada paradigma yang bergeser, yaitu geser tempat duduk kalo ada cewe cakep yang mau minta duduk. Hehehehehe…..