Tak ada yang lebih menggetarkan kecuali sumpah yang diucapkan dengan rela hati. Meski masih berupa misteri, rasanya patut diakui bahwa semakin orang berani mengikatkan diri pada sumpahnya, semakin bebaslah dia. Semakin beranilah dia.
Kebebasan memang berlapis. Meski demikian, kebebasan selalu berada mengatasi keterikatan. Ketika seseorang mengikatkan diri pada sesuatu, sudah pasti pintu kebebasan yang lebih besar terbuka padanya. Lantas begitu bebas, dia punya kesempatan lagi untuk mengikatkan pada sesuatu yang lebih besar lagi.
Karena itu, ketika seseorang hanya berhenti pada rasa bebas yang sekarang ini saja, pada dasarnya dia tidak akan pernah beranjak. Karena hanya keberanian untuk bersumpah dan mengikatkan diri sajalah yang akan membawanya ke arah kebebasan yang lebih besar, lebih umum, dan lebih universal.
Tapi, memang tidak semua orang berani untuk mengikatkan diri. Siapa sudi kehilangan kenikmatan kebebasan yang sedang dienyam bukan. Sama seperti waktu aku kecil. Selalu bersungut-sungut ketika dipanggil oleh nenek untuk mandi. Padahal sedang seru-serunya main sepakbola.
Tampaknya pergulatan manusia selalu akan berada di antara kata ‘bebas dari’ dan ‘bebas untuk’. Orang berjuang untuk ‘bebas dari’ supaya bisa ‘bebas untuk’. Kalau misalnya aku tidak dipanggil oleh nenekku, aku tidak akan berada dalam situasi atau kesempatan untuk memasuki suasana ‘bebas untuk’. Ya, bebas untuk memilih patuh atau menentang atau apa saja.
Selasa, 25 September 2007, aku hadir dalam acara pelantikan sumpah para calon dokter. Sebuah sumpah yang sudah diucapkan sejak jaman Yunani kuno, oleh Hipokrates.
“Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan”
Harusnya sumpah ini dengan mudah membabat habis bujukan para produsen obat terhadap dokter-dokter supaya terus meresepkan obat produksinya.
Ivan Illich, seorang pemikir modern pernah mengkritik keras praktik masyarakat kita yang mengkultuskan seorang dokter. Seakan-akan dokter adalah dewa yang berhak atas hidup pasiennya. Ivan Illich geleng-geleng kepala karena tidak paham mengapa dengan suka rela pasien memberikan miliknya paling berharga yaitu kebebasan atas hidup dan badannya pada dokter.
Padahal dokter seperti yang kita kenal jelas-jelas terbatas. Tidak hanya dari sisi peran, tetapi dari sisi keilmuan pun masih sangat hijauh. Usianya tidak lebih dari 400 an tahun. Baru berkembang setelah beberapa tahun abad pertengahan berakhir.
Meski demikian, para dokter yang telah tersumpah itu wajib diacungi jempol. Sumpah tidak hanya sekedar kata-kata yang memenuhi udara sekitar. Sumpah yang terucapkan sebenarnya telah jadi mantra yang bisa diucapkan setiap saat. Didaraskan setiap waktu.
Karena manusia itu gudangnya alpa. Sumpah yang tidak lagi diucapkan, meski hanya dalam hati, bisa terkubur dan menjadi debu.
Filed under: Uncategorized