Sungai

Sungai itu bukan sekedar nadi, tetapi jantung peradaban. Denyut peradaban besar selalu dimulai dari pinggir sungai. Banyak berkah yang dibawa oleh ibu sungai untuk anak-anaknya. Oleh-oleh yang dibawanya pasti menyegarkan, menyehatkan dan membawa kehidupan menjadi lebih baik.

Aku berteman dengan Sungai Mahakam untuk beberapa hari. Mulai dari hari Rabu (21/12) sampai dengan Sabtu (24/12). Entah berapa kali kami bertergur sapa. Yang jelas aku selalu memndanginya begitu keluar hotel. Entah aku peduli atau tidak Sungai Mahakam selalu datang dan mengetuk pintu ruanganku.

Sungai Mahakam kurang mempesonaku. Warnanya coklat, jadi tidak terlalu menimbulkan gairah untuk menyelami dasarnya. barangkali yang cukup membuatku berdecak adalah kelebarannya. Butuh setengah menit untuk melintasinya dengan kendaraan roda empat yang berjalan 40 km perjam.

Selain itu, banyak kapal-kapal besar, entah itu pengangkut batubara atau penumpang yang melintas dan bersandar di dermaga. Kapal yang hanya kulihat sebelumnya ada di lautan sekarang bisa kusaksikan hilir mudik di sepanjang sungai. Namun lagi-lagi aku tidak terlalu terbetot dengan pesonanya. Apakah Sungai Mahakam sedang murung sehingga tak ada daya tarik yang terpancar dari dalam dirinya. Atau mungkin aku sedang dipeluk si sendu sehingga tidak terlalu terbuka akan keindahan. Entahlah.

Mungkin karena aku tidak bisa mencelupkan kaki ke sungai, atau mandi dan merasakan segarnya jadi tidak terlalu terkesan dengan Sungai Mahakam. Ya, barangkali itu.

Selama di Samarinda, aku selalu terbayang masa lampau, ratusan tahun yang lalu. Saat kawasan ini menjadi salah satu kerajaan besar. Kutai Kartanegara dengan Raja Mulawarman. Meski Samarinda bukanlah tempat beradanya kerajaan tersebut, tetapi setidaknya punya kaitan erat dengannya.

Ceritanya begini, konon, dalam rangka memperluas daerah kekuasaannya, raja kutai mengutus seorang daeng, orang Bugis untuk menjadi penjelajah. Namanya Daeng Mangkona. Makanya tidak heran bila di Samarinda banyak ditemukan orang Bugis. Bahkan ada kampung Bugis.

Sungai Mahakam adalah bagian terbesar dari Kota Samarinda. Tetapi rasanya kota ini tidak akrab dengan Sungai Mahakam. Kota Sungai ini tidak dibangun berdasarkan sungai tetapi berdasarkan daratan. Titik beratnya adalah daratan. Salah satunya terlihat tidak banyak aktivitas yang berdasarkan sungai. Sungai menjadi semacam tempelan.

Aku memang membayangkan seperti Venesia misalnya. Kota dibangun berdasarkan saluran-saluran air, sehingga gondola menjadi tempat romantis untuk memadu kasih. Tak ada dermaga yang enak dipandang sepanjang Sungai Mahakam yang melintasi Samarinda. Sementara itu, belum ada tanda kota lainnya yang cukup mempesona.

Samarinda memang belum menemukan jati dirinya. Harusnya daerah ini menjadi besar. Sungai Mahakam sudah pernah menjadi tempat lahirnya kerjaan besar. Kalau belum, berarti ada yang perlu kita akui dengan arif, kita masih sibuk dengan hal-hal yang remeh temeh dan kurang penting.

Sungai itu berkah. Di Indonesia, banyak sungai telah menjadi uliran cambuk yang terus menghentak lamunan kita akan negeri yang hijau, penuh pesona. Lebih sering ia kita kutuk karena kotor, bau, hitam, penuh sampah dan mengirimi kita banjir setiap setahun sekali. Terutama sungai di Jakarta

« »

2 Responses

  1. Meski warnanya masih cokelat, tapi deras arusnya membuat udang yang hidup di dalamnya terasa manis dan kenyal dagingnya. APalagi kalau digoreng langsung setelah dijaring…hemmm.. pernah minum air sungainya gak? Konon kalau sempat memniumnya kita akan kembali lagi ke sana. Itu sdh terbuktikan lho.. simak perjalanan ttg siluet di balik pulau di http:ambularo.wordpress.com :-)

  2. Saya berhayal andai sungai-sungai yang ada di Indonesia bisa seperti sungai di singapur, bersih dan terawat duh…..Indonesiaku

Leave a Reply