Seingatku, ketika melihat kembang api yang menghiasi Kota Semarang, pada saat 00.00 wib, tidak ada rasa lengang tersisa di hatiku. Perayaan tahun baru yang lampau,-lagi-lagi seingatku- ada secuil rasa hampa. Meski, sesudahnya mudah saja kutimpa dengan berbagai macam kegiatan dan tindakan tetapi ketika aku melihat langit Semarang malam itu, pada 31 Desember 2007, aku jadi teringat setahun lalu, yang entah sudah lupa kulewati di mana. Ya, rasa lengang itu tidak mau pergi meski aku sudah lupa.
Tahun ini, aku lebih bergairah. Sepertinya matahari berada di ujung genggaman dan mengajakku menari. Meski rasanya sekarang ini aku sudah resmi 30 tahun. Di umur yang sama ayahku sudah beranak tiga. Umur yang seturut bayangan saya waktu aku remaja, adalah umur mereka yang sudah berjenggot, berperut buncit dan berkacamata tebal. Umur yang kelihatannya jauh sekali.
Umur tiga puluh, entah dimanapun adalah umur penuh tekanan. Secara sosiologis, ekonomis, dan politis, umur-umur sekianlah seluruh beban ditumpukan. Umur tiga puluh adalah umur produktif, yang sama saja artinya terus dilecut supaya, orang tua dan anak-anak terus dapat makan dan syukur-syukur sejahtera. umur sekian, rasanya matang-matangnya untuk diperas negara lewat pajak, dan dituntut menghasilkan pendapatan yang berguna untuk mencukupi seluruh kebutuhan. Usia yang menantang bukan. Boleh merasa terbebani karena nyatanya beban itu memang ada dan semakin membesar. Tapi, ini adalah satu siklus yang memang harus dijalani.
Tahun Baru 2008, punya arti baru. Tahun ini aku semakin terasadar kalau selama ini aku hanya menjadi penonton. Aku teringat dengan teman yang mengatakan kejahatan terjadi karena banyak orang baik tidak bersedia berbuat baik. Sekedar menonton.
Ir. Soekarno mulai bergerak di usia tigapuluhan. Setelah selesai sekolah lantas kembali ke Indonesia. Hasilnya Indonesia Merdeka. Isa Al- Masih, memulai peran profetisnya di usia 30 an.
Hidup tidak hanya dimulai ketika menginjak usia 40 an. Hidup dimulai kapan saja. Dan bagiku, usia 30 seperti melihat mentari mengajak menari. Mari mulai terut serta memperbaiki bangsa ini. SBY bilang, “Jangan terus merasa kecil.” Aku setuju. Sekarang saatnya terjun dan membangun bangsa ini.Seingatku, ketika melihat kembang api di yang menghiasi Kota Semarang, pada saat 00.00 wib, tidak ada rasa lengang tersisa di hatiku. Perayaan tahun baru yang lampau,-lagi-lagi seingatku- ada secuil rasa hampa. Meski, sesudahnya mudah saja kutimpa dengan berbagai macam kegiatan dan tindakan tetapi ketika aku melihat langit Semarang malam itu, pada 31 Desember 2007, aku jadi teringat setahun lalu, yang entah sudah lupa kulewati di mana. Ya, rasa lengang itu tidak mau pergi meski aku sudah lupa.
Tahun ini, aku lebih bergairah. Sepertinya matahari berada di ujung genggaman dan mengajakku menari. Meski rasanya sekarang ini aku sudah resmi 30 tahun. Di umur yang sama ayahku sudah beranak tiga. Umur yang seturut bayangan saya waktu aku remaja, adalah umur mereka yang sudah berjenggot, berperut buncit dan berkacamata tebal. Umur yang kelihatannya jauh sekali.
Umur tiga puluh, entah dimanapun adalah umur penuh tekanan. Secara sosiologis, ekonomis, dan politis, umur-umur sekianlah seluruh beban ditumpukan. Umur tiga puluh adalah umur produktif, yang sama saja artinya terus dilecut supaya, orang tua dan anak-anak terus dapat makan dan syukur-syukur sejahtera. umur sekian, rasanya matang-matangnya untuk diperas negara lewat pajak, dan dituntut menghasilkan pendapatan yang berguna untuk mencukupi seluruh kebutuhan. Usia yang menantang bukan. Boleh merasa terbebani karena nyatanya beban itu memang ada dan semakin membesar. Tapi, ini adalah satu siklus yang memang harus dijalani.
Tahun Baru 2008, punya arti baru. Tahun ini aku semakin terasadar kalau selama ini aku hanya menjadi penonton. Aku teringat dengan teman yang mengatakan kejahatan terjadi karena banyak orang baik tidak bersedia berbuat baik. Sekedar menonton.
Ir. Soekarno mulai bergerak di usia tigapuluhan. Setelah selesai sekolah lantas kembali ke Indonesia. Hasilnya Indonesia Merdeka. Isa Al- Masih, memulai peran profetisnya di usia 30 an.
Hidup tidak hanya dimulai ketika menginjak usia 40 an. Hidup dimulai kapan saja. Dan bagiku, usia 30 seperti melihat mentari mengajak menari. Mari mulai terut serta memperbaiki bangsa ini. SBY bilang, “Jangan terus merasa kecil.” Aku setuju. Sekarang saatnya terjun dan membangun bangsa ini.
Filed under: Uncategorized
Halahh..ultah tohhh…?? Waahh selamat yaaa… Mudah2an tekanan politisnya tak terlalu berat. Memang tekanan politisnya itu seperti apa yak?? hehehe…