Suara

Genap tiga bulan, usia anakku. Rasanya ia ingin bercerita pengalamannya. Karena setiap kali kulihat matanya,  percikan dan binarnya selalu berjejalan. Dari ketawanya aku juga menduga kalau, dia senang bisa bersama dengan kami. Meski belum bisa terkekeh-kekeh, suaranya yang hanya sesekali terdengar sudah cukup betapa gelinya dia melihat dunia ini.

Anakku tumbuh sehat. Pipi semakin montok, seperti dua buah onde-onde tanpa wijen. Meski sudah seminggu ini kulit di pundak dan punggungnya merah-merah, kayaknya kena iritasi akibat gerahnya udara Semarang, anakku tetap terus aktiv bergerak. Rasa gatal dan panas yang sering mengganggunya tidak pernah membuatnya berhenti menggerakkan kaki dan tangannya. Entah kenapa dia suka sekali mengayuh. Barangkali karena dia ingin segera berlari, ikut hiruk pikuknya kami-kami ini.

Aku suka memandangnya ketika tidur. Bibir sedikit terbuka, kedua tangannya membentuk aba-aba angkare (seperti bentuk huruf u), tapi terlihat tenang. Sesekali, dia tersenyum dan merintih. Katanya dia bermimpi. Ketika melihatnya ketawa sambil terpejam sudah pasti aku ikut tersenyum.

Aku sering mendekapnya ketika dia tidur dalam gendongan. Badannya terasa lembut dan hangat. Apalagi ketika pipinya kutempelkan di pipiku. Ketika aku sudah  terpisah 400 km pun, rasa lembut itu masih tertinggal. Anakku termasuk gendongan. Dan kalau sudah dalam gendongan, meski diguncang-guncang tetap saja terlelap.

Dan pagi itu, 28/1, aku ingin menangis. Ketika aku pamitan pada mertua untuk kembali ke Jakarta , anakku yang terlelap tiba-tiba menangis. Padahal sebelumnya terlelap. Aku tetap bergegas menuju ke ruang tamu, mengenakan sepatu.

Hari itu tetap ke Jakarta.

Suara itu masih terdengar sampai sekarang.

« »

2 Responses

  1. wah, sama bung. anakku juga tiga bulan, tapi masih dalam kandungan. hehe

  2. waduh sedihnya, aku sering merasakan kondisi seperti itu. Tapi tetap terasa indah walau terasa cucuran hangat menggelinding di pipi

Leave a Reply