Ciuman

Ciuman itu dahsyat. Apalagi dengan lawan jenis. Apalagi kala pertama mengalaminya. Berbahagialah hai para remaja yang sedang jatuh cinta. Semesta benr-benar ikut berdansa dengan kamu ketika kali pertama bibirmu berpagut dengan kekasihmu.

Ciuman seperti jet super sonik paling canggih yang mampu membawa siapapun berkeliling semesta. Hanya dalam satu kedipan. Hanya dalam seperempat napas. Jet lagnya bahkan bisa bertahun-tahun. Tak akan hilang sepelupa apa pun dia.

Aku masih sekolah dengan celana pendek kala mencium lawan jenis. Banyak hal yang aku ingin tuliskan tapi rasanya setiap kata selalu terlalu sempit untuk mewadahi apa yang ada di dalam hati dan pikiranku.

Valentin tahun ini aku teringat dengan kali pertama aku ciuman. Topik yang dalam proses penulisan ini selalu terhenti karena aku sering tersenyum-senyum sendiri sambil mengusap bibirku. Topik yang sudah lama ingin kutulis tapi tidak tahu bagaimana memulainya.

Topik yang akhirnya tertulis setelah aku membaca tulisan Desi Anwar di Jakarta Post, tanggal 19 Februari 2008. Dia mengatakan dimanakah letak tak bermoralnya seseorang ketika seorang remaja berciuman di saat hari valentin. Dia mengkritik cap haram hari valentin dan larangan perayaan hari valentin di Bukittinggi, Sumbar karena wakil walikotanya mengatakan banyak tindakan tak bermoral.

Aku teringat dengan ciuman pertamaku. Itulah salah satu harta karunku. Kadang aku masih jetlag. Meski tak sering-sering amat.

Selamat menikmati cinta.

Saatnya membiarkan cinta meraja. (kata-kata ini kutulis dalam undangan pernikahanku). Ya saatnya Cinta Bicara.

Aku tidak paham apa itu moral dalam urusannya dengan ciuman.

« »

2 Responses

  1. ciuman maut. hehe. sori oot, soalnya payah kalo bahas ciuman

  2. Dasyat banget ya nar! hehehe

Leave a Reply