Hesti

Aku semakin tahu kematian itu serupa teman seperjalanan yang selalu kita bentak-bentak untuk pergi menjauh. Padahal dia adalah kawan paling setia yang mendampingi kita seumur hidup. Entah suka atau tidak dia akan tetap ada. Meski dia dibentak-bentak tapi selalu saja tersenyum.

Kawanku, Hesti namanya yang sudah lama tidak bertemu, kembali datang dalam sebuah pesan singkat yang mencantumkan namanya. Isinya Hesti sedang sekarat karena kecelakaan.  Akhirnya meninggal sekitar 50 an hari yang lalu.

Aku merasa dan semakin yakin, setiap orang itu tidak pernah bisa digantikan dengan apapun perannya.  Seremeh apapun peran itu. Keberadaannya itu yang tak pernah tergantikan.

Kematian jadi pintu.

Dan kutak tahu apakah aku masuk atau justru keluar bila saatnya melewati pintu itu.

Tribute to Hesti

yang katanya sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya

« »

2 Responses

  1. Pintu itu walau tak tahu kapan akan tetap datang juga, tinggal kita siap menghaddapinya diiringi sesuatu peninggalan yang berarti.

  2. kematian, saya baru menyadari keberadaan seseorang itu saat kematian menjemputnya. Sampai sekarang, meski ikhlas, saya masih terkaget-kaget dan begitu banyak penyesalan dan pertanyaan mengapa. Bahkan rasa sedih karena perpisahan karena kematian itu juga sulit dihapus . Setiap kali berdoa, selalu mata ini berkaca-kaca… begitu banyak waktu terbuang sia-sia saat dia masih hidup. ah.. Semoga Hesti, teman mu itu, tenang di alam sana,.. turut berduka..

Leave a Reply