<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for nara patrianila</title>
	<atom:link href="http://patrianila.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://patrianila.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah penjelajahan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Jun 2009 14:39:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Sepi by gemabuluk</title>
		<link>http://patrianila.wordpress.com/2007/12/13/sepi/#comment-67</link>
		<dc:creator>gemabuluk</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 14:39:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://patrianila.wordpress.com/2007/12/13/sepi/#comment-67</guid>
		<description>hai. judul postingan kita sama :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hai. judul postingan kita sama <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Hesti by kucingkeren</title>
		<link>http://patrianila.wordpress.com/2008/03/27/hesti/#comment-66</link>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 08:20:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://patrianila.wordpress.com/?p=56#comment-66</guid>
		<description>kematian, saya baru menyadari keberadaan seseorang itu saat kematian menjemputnya. Sampai sekarang, meski ikhlas, saya masih terkaget-kaget dan begitu banyak penyesalan dan pertanyaan mengapa.  Bahkan rasa sedih karena perpisahan karena kematian  itu juga sulit dihapus . Setiap kali berdoa, selalu mata ini berkaca-kaca... begitu banyak waktu terbuang sia-sia saat dia masih hidup. ah.. Semoga Hesti, teman mu itu, tenang di alam sana,.. turut berduka..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kematian, saya baru menyadari keberadaan seseorang itu saat kematian menjemputnya. Sampai sekarang, meski ikhlas, saya masih terkaget-kaget dan begitu banyak penyesalan dan pertanyaan mengapa.  Bahkan rasa sedih karena perpisahan karena kematian  itu juga sulit dihapus . Setiap kali berdoa, selalu mata ini berkaca-kaca&#8230; begitu banyak waktu terbuang sia-sia saat dia masih hidup. ah.. Semoga Hesti, teman mu itu, tenang di alam sana,.. turut berduka..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Pelangi by Musafir Muda</title>
		<link>http://patrianila.wordpress.com/2008/02/21/pelangi/#comment-65</link>
		<dc:creator>Musafir Muda</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 09:52:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://patrianila.wordpress.com/?p=53#comment-65</guid>
		<description>Tulisan ini membuat memoriku berputar pada pengalaman masa lampau yang jarang aku jumpai sekarang ini. Lama aku tidak melihat pelangi. Di sepotong malam saat iseng di atas loteng kulayangkan pandanganku jauh ke atas, menembus langit lebam. Namun, aku tidak menemukan satu bintang jatuh pun. Dulu, saat aku masih duduk di bangku SD di sebuah sekolah sederhana di lereng Sempu, aku melihat bintang jatuh. Tidak hanya satu. Mungkin puluhan. Bahkan ratusan kali. Malam begitu indah. Apalagi memandanginya sambil tiduran di atas rumput puncak bukit yang mulai basah oleh embun. Itu dulu, 21 tahun silam. Kadang masa lalu itu manis kalau diingat. Andai manusia punya daya memori kuat, mungkin dia akan membayangkan pemandangan-pemandangan indah saat masih berada di rahim ibundanya....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini membuat memoriku berputar pada pengalaman masa lampau yang jarang aku jumpai sekarang ini. Lama aku tidak melihat pelangi. Di sepotong malam saat iseng di atas loteng kulayangkan pandanganku jauh ke atas, menembus langit lebam. Namun, aku tidak menemukan satu bintang jatuh pun. Dulu, saat aku masih duduk di bangku SD di sebuah sekolah sederhana di lereng Sempu, aku melihat bintang jatuh. Tidak hanya satu. Mungkin puluhan. Bahkan ratusan kali. Malam begitu indah. Apalagi memandanginya sambil tiduran di atas rumput puncak bukit yang mulai basah oleh embun. Itu dulu, 21 tahun silam. Kadang masa lalu itu manis kalau diingat. Andai manusia punya daya memori kuat, mungkin dia akan membayangkan pemandangan-pemandangan indah saat masih berada di rahim ibundanya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Ciuman by Dini</title>
		<link>http://patrianila.wordpress.com/2008/02/20/ciuman/#comment-64</link>
		<dc:creator>Dini</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 14:15:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://patrianila.wordpress.com/?p=52#comment-64</guid>
		<description>Dasyat banget ya nar! hehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dasyat banget ya nar! hehehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Hesti by anagustini</title>
		<link>http://patrianila.wordpress.com/2008/03/27/hesti/#comment-63</link>
		<dc:creator>anagustini</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 16:18:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://patrianila.wordpress.com/?p=56#comment-63</guid>
		<description>Pintu itu walau tak tahu kapan akan tetap datang juga, tinggal kita siap menghaddapinya diiringi sesuatu peninggalan yang berarti.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pintu itu walau tak tahu kapan akan tetap datang juga, tinggal kita siap menghaddapinya diiringi sesuatu peninggalan yang berarti.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
